Hanya untuk Memecah Hiatus

Life should go on, isn’t it? So does this blog.

Masih banyak yang tercatat namun tidak ter-publish. Tentang resolusi tahun lalu, kegagalan dalam kehidupan akademis, pengalaman kerja proyek di Kementrian Kesehatan, berbagai perasaan dan pemikiran ketika di Depok / Jakarta, hal-hal yang ditemukan dalam perjalanan, hal-hal yang terlewatkan menjadi sebuah kenangan.

Aku tidak akan menulis semua, dan akan berusaha mengurangi bobot tulisan. Membiarkannya mengalir. Karena sejujurnya, aku juga tersiksa saat menulis berat. Seperti memegang pena seribu ton saja. Juga karena belakangan saya menemukan, ada beberapa tanda OCD yang aku identifikasi terkait dengan hal ini. Mudah-mudahan tidak parah.

Sekian untuk posting pemecah hiatus ini.


Bangga, Iri dan Syukur

Sebuah pikiran melintas ketika aku menyusuri lorong sepi kampus malam ini:


“Seseorang mendapatkan sesuatu justru jika dia tidak terlalu mengharapkannya”

Aku melihat tempelan poster penerimaan beasiswa, mengawasi spanduk-spanduk penghargaan lomba, mengingat daftar panjang Curriculum Vitae teman-temanku yang luar biasa. Ada juga seangkatan saya, yang sudah bekerja di perusahaan ternama, sedang merintis usaha, atau sudah menikah dan melanjutkan bahtera kehidupannya ke tingkat perjalanan yang selanjutnya.

Mereka telah berhasil mencapai berbagai hal dalam kehidupannya. Ada sebersit iri yang muncul, karena mereka adalah orang-orang yang sebelumnya kutemui setiap hari. Mereka kuliah sebagaimana aku kuliah. Mengerjakan tugas seperti teman-teman mengerjakan tugas. Dan beraktivitas sebagaimana orang lain beraktivitas.

Mereka adalah orang yang sedikit banyak kukenal baik. Di suatu waktu kami bertemu di perkuliahan atau berbincang ringan di kantin. Di waktu yang lain kami shalat berjama’ah di masjid atau mushalla, mereka atau aku yang mengimami.

Ada pula balutan rasa bangga, karena dari perspektif ego-ku, mereka adalah orang-orang yang berkeliling di sekitarku. Aku menjadi sosok orang biasa di antara orang-orang luar biasa. Kuharap dengan begitu suatu saat aku bisa bercerita: lihatlah, dia itu dulu temanku, subhanallah ternyata dia sekarang sudah menjadi orang sukses dan hebat.

Pikiranku mendadak memilin sebuah pertanyaan generalisasi tanpa kuperintah: apa kesamaan yang dimiliki oleh mereka?

Dan dengan berbekal hasil obervasi intuitif terbatasku, aku bisa menjawab beberapa hal.

Continue reading


Introspeksi Diri

Khutbah pertama kali ane.. Daripada salah, ane baca khutbah dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun X/1427H/2006M. Tidak semuanya dikutip, ada dalil yang tidak ane baca, juga ditambah dengan merapikannya sedikit.

urgensi-akidah

Continue reading


Hidayah Kedua

Sejak sekitar tiga setengah tahun yang lalu, aku seakan mendapatkan hidayah kedua, mengenal manhaj dan memaknai tauhid.

Continue reading


Baiklah, aku muak

Aku mulai kesal dengan tulisan-tulisanku sendiri. Kok kelihatannya berat banget sih? Padahal sebetulnya aku mau pakai blog ini untuk latihan menulis. Seharusnya sebagai latihan menulis, aku tidak menulis tulisan yang terlalu penting. Tapi aku juga tidak mau lepas dari kaidah asas tulisan bermanfaat.

Keseimbangan. Itu dia.

Sepertinya aku sudah kehilangan keseimbangan. Continue reading


#4.5 Berapa Harga Diriku?

Harga diri seseorang adalah sebatas penerimaannya kepada dirinya sendiri. Harga diri bukanlah sebuah label yang bisa ditempelkan di kening manusia. Manusia bukanlah benda mati, walaupun sebenarnya manusia menjual dirinya, untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dari Abu Malik Al Haritsy bin ‘Ashim Al ‘Asy’ary radhiallahuanhu dia berkata : Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Bersuci sebagian dari iman, Al Hamdulillah dapat memenuhi timbangan), Subhanallah dan Al Hamdulillah dapat memenuhi antara langit dan bumi, Sholat adalah cahaya), shadaqah adalah bukti), Al Quran dapat menjadi saksi yang meringankanmu atau yang memberatkanmu.

Semua manusia berangkat menjual dirinya) ada yang membebaskan dirinya (dari kehinaan dan azab) ada juga yang menghancurkan dirinya. (Riwayat Muslim).

Menjual dirinya berarti menta’ati Allah atau mentaati syetan dengan bermaksiat kepada-Nya, untuk lebih jelasnya, silakan baca syarah Hadits Arba’in Nawawi.

Perbudakan sudah beralih dari hubungan tuan-budak menjadi organisasi-anggota, negara-rakyat, perusahaan-pegawai. Manusia memilih dan mengambil bentuknya masing-masing sebagai “budak” dari majikannya atau jika mau lebih halus sebut saja “hamba” dari yang kepadanya dia menghamba.  Intinya sama saja.

Majikan memberikan aturan, hamba menuruti. Jika hamba tidak menuruti, majikan akan menghukumnya. Jika hamba bekerja dengan baik sebagaimana diperintahkan, majikan akan senang dan memberikan apa yang dia inginkan. Mungkin berupa harta, atau mungkin berupa hamba sahaya wanita yang dia nikahkan padanya, atau memerdekakannya.

Penghargaan diri seseorang adalah sebatas pemahaman atas kelebihan dan kekurangan dirinya, dan tetap menyukai dirinya sendiri. Jika seseorang sudah tidak menyukai dirinya sendiri, siapa lagi yang bisa menyukainya? Ibunya? Hm.. mungkin, selama dia bukanlah ibu yang tega membuang orok yang dia kandung di tempat sampah atau di kali.

Orang yang memiliki penghargaan diri yang cukup merasa aman menjadi dirinya sendiri,dan tidak terganggu jika dia berbeda dengan orang lain dalam beberapa hal kecil. Perbedaan kecil itu adalah seperti perbedaan seorang presiden dengan rakyatnya, perbedaan seorang milyuner dengan seorang tukang bangunan. Perbedaan langit dan bumi. Sejak kapan langit dan bumi berseteru, sehingga tidak mau bertemu di horizon?

Continue reading


#4 Penghargaan-diri

(Sambungan dari #3.5)

This slideshow requires JavaScript.

“Tak seorang pun dapat membuat kita merasa rendah diri tanpa izin kita.”

–Eleanor Roosevelt, 1937

Continue reading


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.