Hidayah Kedua
Telah dituliskan: 20 September 2011 Filed under: as a moslem | Tags: hidayah kedua 6 Comments »Sejak sekitar tiga setengah tahun yang lalu, aku seakan mendapatkan hidayah kedua, mengenal manhaj dan memaknai tauhid.
Dan kemudian setelah itu aku tidak habis pikir mengapa ada orang-orang yang beribadah di kuburan, memakai jimat-jimat, dan meminta hal-hal di luar kemampuan manusia selain kepada Allah.
Dan aku meninggalkan ramalan astronomi, zodiak, shio dan semacamnya karena aku takut jika hal itu terus menerus kubaca, maka bisa merusak keyakinanku, kemudian aku merugi karena termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah dengan bintang-bintang ciptaan-Nya.
Dan tidaklah aku mengalami kesulitan bergaul, terutama dengan teman-teman lawan jenis, karena mereka terlalu indah dan aku merasa belum pantas merasakan keindahan itu. Dan juga karena mereka terlalu baik, dan aku merasa belum pantas menerima kebaikan mereka.
Dan tidaklah aku menghindari banyak pergaulan, kecuali karena takut diwarnai buruk atau mendapatkan celaan yang menyakitkan. Cukup pandangan aneh dan sinis dari mereka, membuatku seakan menerima pesan “tempatmu bukan di sini.” Namun sebenarnya, aku tidak perlu takut akan celaan orang yang mencela.
Kemudian aku mencari ke masjid-masjid. Berusaha mencari Rabb-ku. Padahal Dia tidak hilang, hanya aku saja yang jauh dari-Nya, maka aku hilang ketenangan. Aku menenggelamkan diri pada Surat-surat Cinta-Nya, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan “mengapa aku diciptakan?” dan “apa yang harus kulakukan dalam kehidupan?”
Sudah sering ceramah berbagai mimbar aku rekam dalam ingatan. Jawabannya adalah “untuk beribadah kepada Allah.” Namun entahlah, seakan jawaban itu terlupa seiring aku meninggalkan masjid, kembali kepada “kehidupan.” Maka, apakah “kehidupan” dan “ibadah” itu terpisah? Sepertinya, dari jawaban tadi, tidak.
Dan aku terus membaca Al-Quran. Aku mendapatkan kenikmatan baru setiap kali berusaha memahaminya. Namun terkadang aku bingung mengenai tafsirnya, dan hubungan antara satu ayat dengan ayat lainnya. Terkadang pembahasannya meloncat-loncat dari cerita-cerita Nabi, ayat-ayat ketentuan hukum antarmanusia, peperangan, kabar gembira berupa Surga atau peringatan berupa siksa Neraka. Beberapa ayat dan hadits aku ingat-ingat, namun seakan terserak tanpa struktur pemahaman yang jelas.
Kemudian aku diajak untuk memahami Al-Quran dan Sunnah sebagaimana Rasulullah dan para Sahabatnya memahaminya. Aku bilang, kenapa tidak? Bahkan itulah cara yang paling lurus untuk menjadikan Al-Quran sebagaimana ia diturunkan. Menjadikan Al-Quran bukan hanya seperangkat teori, namun juga teladan praktik-nya yang nyata dalam kehidupan. Sebagaimana Rasulullah benar-benar mempunyai akhlak Al-Quran, pasti di sekelilingnya akan berkumpul orang-orang yang mendapatkan cahaya petunjuk.
Kemudian aku mulai menggeser teratur dari cita-cita tinggiku sebelumnya, aku menemukan cita-cita yang lebih tinggi. Aku mulai berpikir dua kali untuk meneruskan belajar ke luar negeri (negeri kafir), karena mempertimbangkan keadaanku, apakah imanku akan kuat? Bukankah kekuatan iman yang akan menentukan aku akan mendapatkan cita-cita Surga-ku? Aku mencoba mengingat-ingat cita-cita masuk Surga dalam setiap perbuatanku. Ternyata masih sedikit sekali yang relevan.
Kemudian aku mulai menjauhi organisasi-organisasi [link]. Katanya, “Awas kamu bisa berubah dan terwarnai, bukan mewarnai.” Di tengah pelangi kehidupan, merah, kuning dan hijau, aku lebih condong ke warna hijau. Hijau adalah warna yang kupilih, di antara biru dan hitam, namun spektrum hijau pun berbeda-beda. Ada hijau tua, ada hijau muda. Tujuh puluh tiga warna yang hijau yang berbeda.
Dan ya, di sana aku melihat ikhtilat, bagaimana itu sudah dianggap hal yang biasa atau darurat. Dan saat tiba waktu shalat, pun aku melihat di antara mereka tidak memperhatikan masalah shalat dengan perhatian yang cukup. Dan belajar agama, aku tidak melihat bagi mereka hal itu adalah sesuatu hal yang utama.
Dan aku menjadi terasing dari kumpulan orang asing. Aku hanya menjaga jarak, dan aku dijauhi. “Orang aneh, jangan dekati dia.” “Dia luar biasa,” pikirnya. “Luar biasa aneh,” kata mereka. “Tidak bisa membaur,” sindirnya. “Dari aliran mana orang itu?”
Dan aku heran pada orang tua yang membiarkan anaknya meninggalkan shalat, berpacaran, dan tidak bisa membaca Al-Quran, namun malah menjadi cemas luar biasa saat anaknya mulai rajin shalat berjama’ah di masjid, berjilbab, dan sering membaca Al-Quran [link]. Wah, anakku mendapat pengaruh aneh dari mana ini?
Pernah aku membayangkan keadaanku seperti Para Nabi yang dimusuhi keluarga, sanak famili, dan teman-teman dan kaumnya sendiri. Pernah aku membayangkan keadaanku seperti Ibrahim yang harus berdakwah kepada ayahnya sendiri. Pernah aku membayangkan keadaanku seperti Yusuf dan saudara-saudara-nya sendiri. Pernah aku membayangkan keadaanku seperti para sahabat Muhajirin yang hijrah meninggalkan hampir segalanya, hanya membawa iman ke Madinah.
Dan aku mulai meninggalkan musik dan nyanyian yang melalaikan dari dzikir dan ayat al-Quran.
Dan aku mulai menjauhi tontonan yang banyak mengandung kemaksiatan. Yang di dalamnya tidak lepas dari buka-buka aurat, kebohongan, ghibah, isu-isu yang belum tentu benar atau tidak bermanfaat bagi keadaan nyata, menjadikan lalai, bahkan sampai pada kerusakan ‘aqidah dan kesyirikan.
Dan aku sadar, bapakku dulu adalah seorang pegawai bank konvensional. Bank ribawi. Maka darah dan daging yang membentuk tubuhku saat ini, bisa jadi tercampur dengan harta yang haram, astaghfirullah. Ya Allah, karenanya benar-benar aku pernah ragu doaku akan Engkau kabulkan? Namun kutahu Kau Maha Pemaaf dan Maha Pengampun.
Maka pikiranku penuh, dan aku sulit berkonsentrasi dengan tugas-tugas dan kewajibanku sebagai mahasiswa.
Dan aku sudah mendapatkan cercaan dan kebencian hanya karena menyebutkan hadits Nabi “kullu bid’atin dholalah.” Dan aku sudah pernah disindir bahwa aku seperti teroris, hanya karena berjenggot. Dan aku sudah sering mendapatkan cap “wahabi” kemudian dicerca. Dan aku sudah pernah mendapatkan celaan celana kebanjiran, dan lainnya. Padahal tidaklah aku mengangkat celanaku agar tidak melebihi mata kaki melainkan karena itu perintah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sejak mencoba mengamalkan Sunnah Nabi, aku dijauhi. Atau setidaknya, itulah yang kurasakan. Sejak saat itu, aku seperti dalam kondisi kritits. Bagai menggenggam bara api.
Bara itu panas, seakan aku hendak melepaskannya. Pernah terpikir, ya sudah, aku kembali saja menjauhi Al-Quran dan Hadits. Atau biarkan saja itu sebagai tumpukan teori tak teraplikasi. Atau pahami saja dengan pemahaman yang tidak sesuai dengan pemahaman Rasulullah dan para Sahabat beliau, toh Allah Maha Pengampun. Bahkan aku takut akan banyaknya dosaku, hingga kebaikanku tidak bisa mengimbangi.
Aku tidak tahu mana shalatku yang khusyuk. Aku tidak tahu mana doaku yang Allah kabulkan. Dan permintaanku masuk Surga, bukanlah menjadi jaminan aku akan memasukinya.
Namun aku harus terus memegang bara api itu, walaupun menyakiti tanganku. Aku harus sabar. Jangan sampai aku melepaskan hidayah setelah ia sampai kepadaku. Karena bisa-bisa aku mati tiba-tiba, dan mendapatkan su-ul khatimah. Aku harus meneladani kesabaran para Nabi. Aku harus mencoba dan terus berusaha mencocoki amal dan perbuatan Rasulullah dan para Sahabatnya.
Meskipun aku hanya manusia biasa, yang pasti tidak sempurna. Meskipun hanya segini yang aku bisa, yang pasti tidak ada bandingannya dengan perjuangan mereka. Meskipun hanya diriku yang seperti ini, saat ini.



dijauhi manusia, tak perlu dirisaukan. malah kisah orang2 terdahulu, hamba yg dekat dengan Alloh akan menjauhi manusia dan dunia dengan segala isinya. yang ada dihati mereka hanya Alloh. Alloh yg mencukupkan, bukan manusia.
Masha Allah.. subhanallahu…..jazaakallahu khoiran wa baraaka fiykum……indah nian apa yang anda tuangkan!!!!
hidayah pertama?
di rumah, diajari shalat dan baca Quran
halo assalaamu’alaykum..
kaifa hal kak arman?
#lama tak tegur ni akhiy..
wa’alaikumsalam.. khoir alhamdulillah..
hhe, iya dek fi, udah sekitar dua bulan, semacam dormant,