Bangga, Iri dan Syukur

Sebuah pikiran melintas ketika aku menyusuri lorong sepi kampus malam ini:


“Seseorang mendapatkan sesuatu justru jika dia tidak terlalu mengharapkannya”

Aku melihat tempelan poster penerimaan beasiswa, mengawasi spanduk-spanduk penghargaan lomba, mengingat daftar panjang Curriculum Vitae teman-temanku yang luar biasa. Ada juga seangkatan saya, yang sudah bekerja di perusahaan ternama, sedang merintis usaha, atau sudah menikah dan melanjutkan bahtera kehidupannya ke tingkat perjalanan yang selanjutnya.

Mereka telah berhasil mencapai berbagai hal dalam kehidupannya. Ada sebersit iri yang muncul, karena mereka adalah orang-orang yang sebelumnya kutemui setiap hari. Mereka kuliah sebagaimana aku kuliah. Mengerjakan tugas seperti teman-teman mengerjakan tugas. Dan beraktivitas sebagaimana orang lain beraktivitas.

Mereka adalah orang yang sedikit banyak kukenal baik. Di suatu waktu kami bertemu di perkuliahan atau berbincang ringan di kantin. Di waktu yang lain kami shalat berjama’ah di masjid atau mushalla, mereka atau aku yang mengimami.

Ada pula balutan rasa bangga, karena dari perspektif ego-ku, mereka adalah orang-orang yang berkeliling di sekitarku. Aku menjadi sosok orang biasa di antara orang-orang luar biasa. Kuharap dengan begitu suatu saat aku bisa bercerita: lihatlah, dia itu dulu temanku, subhanallah ternyata dia sekarang sudah menjadi orang sukses dan hebat.

Pikiranku mendadak memilin sebuah pertanyaan generalisasi tanpa kuperintah: apa kesamaan yang dimiliki oleh mereka?

Dan dengan berbekal hasil obervasi intuitif terbatasku, aku bisa menjawab beberapa hal.

Kebanyakan dari mereka memilki attitude yang low-profile, mereka tidak membangga-banggakan diri, namun justru karena itu mereka dibangga-banggakan orang lain.

Ketika mereka mengambil sebuah tantangan, mereka tidak tahu apa hasil yang akan mereka dapatkan. Mereka memiliki visi yang lebih besar daripada sekedar menyelesaikan tantangan itu. Dengan beberapa persen keyakinan, mereka tetap melangkah. Keyakinan akan muncul dan bertambah besar seperti bola saju atau efek domino saat seseorang berada dalam tantangan perjalanan, bukan saat belum melangkah. Kata kuncinya: niat.

Mereka adalah pembelajar yang suka berlatih. Mereka tahu: kegagalan bukanlah saat terjatuh, namun saat seseorang tidak berani melangkah. Kegagalan bukanlah saat terjatuh, namun saat seseorang tidak mau bangkit setelah terjatuh.

Mereka lebih mementingkan proses daripada hasil. Bukan apa yang didapatkan, namun bagaimana cara mendapatkannya. Karena mungkin seseorang tidak mendapatkan hasil yang diharapkan dari proses tertentu, tapi dia mendapatkan pelajaran yang lebih berharga daripada sekedar keberhasilan. Keberhasilan justru bisa menjadi bumerang. Beberapa orang percaya: keberhasilan adalah guru yang buruk, sedangkan pengalaman adalah guru yang baik.

Seperti di kala lomba, para peserta yang sukses seringkali orang yang melangkah dengan meyakini : nothing to lose. Di satu sisi, penghargaan lomba-lomba itu memang prestisius. Di sisi lain mereka merasa tidak akan kehilangan banyak jika tidak memenangkannya. Mereka sangat mengerti: Kewajiban manusia adalah berusaha, bukan berhasil.

Karena sikap nothing to lose itu, mereka bisa mengalahkan egonya sendiri, percaya dengan kemampuannya, melangkah dengan mantap, berbicara dengan tegas, dan bisa meyakinkan orang-orang yang mendengarkannya.

Dan alhamdulillah, itulah kenikmatan yang besar dari rezeki yang datang tidak disangka-sangka. Berbeda dengan kenikmatan yang dihasilkan, namun memang sudah diperkirakan sebelumnya. Analoginya seperti gaji seorang pegawai, kemudian karena bos melihat pekerjaannya bagus dan melebihi ekspektasi dalam sebuah proyek, maka dia diberi bonus lebih besar daripada gajinya, bagaimana dia tidak senang?

Mirip dengan Tawakkal

Jika diperhatikan, ini mirip dengan konsep tawakkal. Yaitu seseorang berusaha dengan keras, kemudian di puncaknya, dia menyerahkan hasilnya kepada Yang Maha Kuasa. Pun jika tidak dibalas di dunia yang fana, maka dia masih punya harapan pada kehidupan akhirat yang baka. Dan saat seorang Muslim masuk Surga, bagaimana dia tidak bahagia?

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. At-Thalaq : 2-3)

Mengenai iri, sebenarnya sudah menjadi topik dalam sosiologi dan psikologi. Sepertinya itu adalah reaksi wajar dari manusia kebanyakan. Mereka yang merasa memiliki sesuatu, biasanya susah untuk menghargai milik orang lain. Penghargaan yang dimaksud bukan hanya kepada kepada kepemilikan harta benda, namun seperti kemampuan dan prestasi yang merupakan aset kepemilikan yang lebih besar. Dan rasa iri itu akan semakin besar jika kita dekat dengan seseorang, kemudian dia berhasil dan kita kurang menghargai keberhasilan kita.

Maka bersyukurlah dan jangan iri.

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ : 32)

Dan agar tidak melampaui batas, ingatlah kisah Qarun.

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar.”

Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah).”

(QS. Al-Qashash : 76-82)

Beryukurlah atas apa pun yang kita terima, banyak atau sedikit. Semuanya adalah karunia Allah. Dan karunia Allah tidak hanya sebatas harta, prestasi dan kemampuan, tapi juga meliputi motivasi untuk bekerja keras, kemauan bangkit dari kegagalan, dan kemampuan untuk mensyukuri apapun yang telah didapatkan. Dan barangsiapa dikaruniai Allah kesabaran dan kesyukuran, maka sungguh dia telah mendapatkan dua kunci kebahagiaan.

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulahyang terbaik untuknya.” (Shahih Muslim no. 7500 hal. 1295).

[sebuah nasehat untuk diriku sendiri]


23 Komentar on “Bangga, Iri dan Syukur”

  1. fi mengatakan:

    ka, saya mau save, boleh?
    mau kutip caption fotonya juga. hhe

  2. santai coi mengatakan:

    Tulisan dan pemikiran yang sangat bagus…

    Isinya seperti posisi ane sekarang.. hanya ada embel2 lagi dibelakangnya.. “knapa ya, orang-orang tersebut setelah disebut ‘berhasil’ jadi sombong, gila harta dan lupa daratan. padahal sebagian dari mereka adalah orang-orang yang dulu ane hargain.. orang-orang yg selalu taat beribadah. orang-orang yang sedang shalat ketika ane asyik2an bermain bola.

    Mudah2an temen2 ane jadi orang yang lebih baik dari yg dulu ane kenal.

  3. [...] ini saya sangat rindu membaca tulisan baru dari blogger ini. Tulisan terakhirnya adalah tanggal 21 Oktober 2011. Dan dia sedang tidak di kampus karena ada hal yang harus dikerjakan di Jakarta. Saya harap bisa [...]

  4. geum mengatakan:

    Tersenyum, tertohok, terharu…. T-T

  5. ghani arasyid mengatakan:

    bersyukur, sepertinya ini yang harus saya utamakan dalam setiap jengkal perjalanan dalam hidup…


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.