Information Overload
Telah dituliskan: 19 Februari 2012 Filed under: as a collector | Tags: bacaan, perjalanan, psikologi 6 Comments »Terlalu banyak informasi, waktu dan kemampuan terbatas.
Sekali buka browser, aku biasa memenuhinya dengan puluhan tab. Aku masih terjebak kebiasaan lama yang terbentuk saat SMA dulu: menyimpan halaman. Dan sekarang, menyimpan bookmark. Dulu keren sekali rasanya kalau kita tahu sesuatu yang baru yang belum diketahui oleh orang lain.
Well, it doesn’t work like that anymore.Bukan orang yang memiliki lebih banyak informasi yang lebih unggul, namun orang yang bisa memanfaatkan informasi tersebut. Informasi yang tersebar di dunia internet adalah informasi mentah. Informasi tersebut baru bisa memunculkan nilainya jika sudah terhubung dengan konteks atau asosiasi dengan informasi lainnya.
Berapa waktu yang dibutuhkan untuk browsing? Taruhlah ada 30 tab yang dibuka (aku memakai plugin Tree Style Tab di browser Firefox). Jika setiap tab dibuka dua kali selama tiga puluh detik, berarti sudah menghabiskan tiga puluh menit. Setengah jam sekali browsing. Jika sehari aku browsing sepuluh kali maka akumulasinya lima jam. Seringkali lebih dari itu.
Aku juga sulit mengendalikan diri untuk tidak mengeklik link yang menarik. Satu website bisa kujelajahi dalam sampai tiga belas deep link (biasa digambarkan dalam breadcrumb website). Belum lagi jika ada link download informasi yang menarik. IDM bajakan akan segera bekerja.
Tapi di akhir perjalanan menyenangkan menjelajahi internet, dapat apa?
Dalam salah satu model pembentukan pengetahuan (knowledge creation), informasi hanyalah bentuk olah mentah dari data. Fakta-fakta yang dikumpulkan akan membentuk informasi. Penjelasannya sering dengan analogi cerita gajah dan orang-orang buta. Fakta bahwa gajah berkaki besar, berhidung (belalai) panjang, berekor seperti cambuk, dan berkuping lebar tidak bisa dipahami seutuhnya sebagai seekor gajah. Hal itu dikarenakan orang buta tidak melihat keseluruhannya, namun hanya meraba bagian-bagian tubuh gajah. Setelah dikumpulkan menjadi satu konteks bahwa fakta-fakta tadi adalah ciri-ciri bagian tubuh seekor gajah, baru bisa didapatkan informasi: itu seekor gajah.
Sekarang, gajah-gajah telah terlihat. Kita tidak buta. Sekarang kita punya World Wide Web dan Google yang bisa membantu kita melihat dan mencari informasi. Sekarang orang yang tahu informasi baru tidak sekeren dulu. Malahan sekarang orang yang tidak tahu informasi baru lebih cepat dibilang “hidup di hutan” atau lebih gaulnya “loe ke mana aja seh, gitu aja kok nggak tauk?“
Kemampuan kita mengolah informasi terbatas. Memang otak kita lebih cepat daripada prosesor tercepat saat ini, namun manusia mengolah informasi kebanyakan dengan pikiran tak sadar (unconscious mind). Pikiran sadar kita hanya bisa mengolah tujuh hingga sepuluh informasi berbeda. Dan itu sudah berat. Bayangkan mengingat tujuh materi dalam buku teks kuliah semester enam yang tidak saling berhubungan, kalau perlu lintas disiplin (beda jurusan).
Akhirnya, aku harus bersahabat dengan keterbatasan. Berdamai dengan keinginan obsesif kompulsif untuk selalu mengumpulkan sebagian dari halaman menarik yang kutemukan di tengah penjelajahan. Toh history browser sudah cukup untuk melacak jejakku di dunia maya.
Setiap perjalanan harus bermakna lebih tinggi, yaitu mendapatkan: pengetahuan (knowledge), pengalaman (experience), dan kebijaksanaan (wisdom). Dan seringkali, kita mendapatkan hal-hal tersebut bukan dengan menerima (take) tapi justru dengan memberi (give).
Web 2.0 and the Rise of Social Media enable that. Web semakin memudahkan pengguna untuk mengkontribusikan konten yang mereka buat. WordPress dan mesin blogging lainnya telah memberikan contoh. Blog mana yang biasanya dianggap paling baik? Umumnya orang setuju jika ada sifat inspiratif, insightful (kupasan yang dalam untuk topik tertentu), dan baru (atau unik atau langka). Simply, para blogger terkenal itu lebih banyak memberikan nilai daripada sekedar informasi.
Saya ingin tutup dengan sebuah kutipan bijak. Pesan dari Oscar Wilde Ralph Waldo Emerson untuk dunia.
“What is a cynic? A man who knows the price of everything and the value of nothing.”
― Oscar Wilde“There are many things of which a wise man might wish to be ignorant”
― Ralph Waldo Emerson




padahal saya suka bagian kutipan: “What is a cynic? A man who knows the price of everything and the value of nothing” –> tapi sayang udah dicoret sama penulisnya :p
soalnya kurang pas.. hehe.. ntar paling muncul lagi,
saya setuju.. kemampuan mengolah informasi itulah yang lebih penting.
dan saya suka analogi gajah dan orang buta. hehe
Informasi tentu tak hanya sampai saat ini. Kemampuan kita harus mampu menemukannya lebih. Saya terpaksa ngomong kpd diri krn saya haus informasi.
Komen saya membingungkan? Haa..
jangan lupa di-filter, informasi ada juga yang sifatnya merusak, kan?
kalau sdh browsing, niatan awalnya pengin mendapatkan ‘sesuatu’ yg berguna dr internet. tapi stlh lewat berapa jam akhirnya cuma dapet main2 doang + mata perih. internet memang terlalu menggoda.