Fixed Mindset vs Growth Mindset

Pikiran kita bisa dimodelkan. Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya memahami bagaimana pikiran kita sendiri bekerja, namun kita bisa berusaha mengamati bagaimana perilaku pikiran kita. Toh pikiran itu adalah proses yang terjadi dalam otak kita sendiri.

Salah satu model yang mungkin bisa menjelaskan perilaku pikiran kita adalah mindset. Mindset adalah kumpulan keyakinan, sebuah kebiasaan atau karakteristik sikap mental yang menentukan bagaimana kita menafsirkan dan merespon berbagai situasi.

Manfaat memahami mindset adalah agar kita benar-benar yakin pada sebuah hipotesis: Apa yang terjadi pada kita tidak lebih penting daripada bagaimana kita melihat dan merespon kejadian tersebut.

Pikirkan sebuah kejadian yang baru saja kita alami. Mungkin sesaat yang lalu saat kita sedang shalat, saat ujian, atau saat bekerja. Mungkin tahun-tahun silam yang masih terkenang sebagai kegagalan luar biasa, atau sebuah keberhasilan menapaki tangga kesuksesan. Bisa kejadian besar atau kejadian kecil yang mungkin tidak begitu penting namun bisa menimbulkan butterfly effect yang cukup signifikan. Dari setiap kejadian tersebut, kita bisa menginterpretasikannya dengan berbagai cara, namun kita bisa mengelompokkannya menjadi dua. Yaitu dengan menggunakan fixed mindset atau growth mindset.

Penelitian tentang dua mindset ini dilakukan oleh Carol Dweck selama kurang lebih 30 tahun. Dia mencoba menjelaskan salah satu akar masalah manusia : perubahan. Yaitu mengapa beberapa orang lebih dinamik mengikuti perubahan atau bergerak melakukan perubahan, sedangkan orang lain sangat sulit berubah.

Orang yang memiliki fixed mindset memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kondisi stabil. Kondisi stabil adalah kondisi nyaman, kondisi masa lalu kita yang kita anggap sebagai kesuksesan, kemudian kita mempertahankan barbagai hal yang kita anggap sebagai sebab-sebab kesuksesan tersebut.

Di lain sisi, orang yang memiliki growth mindset memiliki kecenderungan untuk berubah. Perubahan itu tidak selalu baik, namun dia menganggap perubahan adalah jalan yang harus ditempuh untuk menapaki masa depan. Dia lebih berorientasi pada masa depan. Masa lalu mengenai kegagalan tidak banyak dia tanyakan “mengapa hal itu terjadi?” untuk menemukan sebab-sebabnya. Pun kesuksesan yang dulu, hanya dia anggap sebuah batu loncatan untuk hal yang jauh lebih besar di depan.

Sampai di sini mungkin kita melihatnya sebagai dikotomi. Oh iya, orang-orang yang saya kenal itu punya fixed mindset dan orang-orang yang sukses di sana memiliki growth mindset. Selamat, kita mungkin terjebak dalam judgement. Itu adalah salah satu kecenderungan pemilik fixed mindset.

Justru orang yang memiliki growth mindset akan lebih bijak melihat dirinya dan orang lain. Yaitu bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Beberapa orang mungkin bisa berubah dengan cepat, beberapa yang lain berubah lambat laun sedikit demi sedikit. Perubahan di sini tentunya dalam koridor nilai yang positif. Karena jika melihat kondisi kita sendiri, manusia memang cenderung lebih cepat jika menuju perubahan nilai negatif.

Model ini bukanlah klasifikasi tetap, namun merupakan nilai gradual yang merentang mulai dari titik total fixed hingga total growth. Setiap manusia memiliki mindset unik yang berbeda untuk setiap kejadian yang dia alami, kita hanya bisa memprediksi pola signifikan yang kita alami sendiri dan amati dari orang lain.

dweck_mindset

Gambar dari http://alexvermeer.com/why-your-mindset-important/


Psikososial, Psikoseksual, False Belief

Teorinya, manusia mengalami perkembangan mental dan psikologis dalam tahapan-tahapan tertentu melalui seluruh hidupnya. Perkembangan ini dikaji dalam psikologi perkembangan (developmental psychology).

Praktisnya, kita sendiri pasti sudah mengalami tahap-tahap kehidupan kita sendiri. Cerita setiap manusia sangat unik. Namun beberapa kesamaan pasti terjadi hingga bisa dibentuk sebuah generalisasi.

Ada dua teori yang belakangan terngiang di benak. Mungkin ini terkait dengan pertanyaan berujung terbuka yang terus meminta jawaban di pikiran setengah bawah sadarku.

Apa ada yang salah dalam pengalaman hidupku?

Mengenai dampak pengalaman masa laluku, tidak perlu dibicarakan di sini. Aku ingin memasuki salah satu mode mekanisme defensif : intelektualisasi. Baca entri selengkapnya »


Cara browsing sambil belajar second language

Browsing sambil belajar bahasa? Coba Google’s Language Immersion Chrome extension. Kita bisa belajar bahasa dengan metode Language Immersion.


PANDUAN SHALAT ISTIKHARAH

Reblogged from Artikel Islam Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah Free Download Gratis Ebook MP3 Video Turorial Ceramah Kajian Islam | SALAFIYUNPAD.wordpress.com:

Oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

Sesungguhnya manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pada pertolongan Allah dalam setiap urusan-Nya. Yang mesti diyakini bahwa manusia tidak mengetahui perkara yang ghoib. Manusia tidak mengetahui manakah yang baik dan buruk pada kejadian pada masa akan datang. Oleh karena itu, di antara hikmah Allah Ta’ala kepada hamba-Nya, Dia mensyariatkan do’a supaya seorang hamba dapat bertawasul pada Rabbnya untuk dihilangkan kesulitan dan diperolehnya kebaikan.

Read more… 1.936 more words

Untuk dihapalkan.

Language as a window to human nature

Yang menarik bagiku adalah (mulai menit 3.34) temuan antropologis yang mengklasifikasikan hubungan manusia menjadi tiga: dominance, communality, dan resiprocity. Memperhatikan tiga jenis hubungan ini, aku jadi bisa belajar menempatkan diri. Apakah suatu hubungan termasuk yang pertama, kedua, atau yang ketiga, kemudian bertindak sesuai dengan sifat hubungan tersebut. Silakan lihat, semoga bermanfaat.

Oia, hiraukan pembahasan tentang evolusi dan beberapa topik tentang seks. Yang bahas sepertinya berangkat dari keyakinan Darwinisme. Jangan diambil.


#2.5 Ketegasan

(Semacam sambungan dari tulisan sebelumnya. Semacam lanjutan dari ini)

Secara tidak sadar, aku sering mencampuradukkan antara ketegasan dengan kekerasan/kekasaran dalam berkomunikasi. Padahal keduanya berbeda.

Baca entri selengkapnya »


#2 Sikap Asertif

(Sambungan dari tulisan sebelumnya: Who Am I?)

“Semakin banyak perdebatan yang kita menangkan, akan semakin sedikit teman yang kita miliki.”

–Anonim

Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 114 pengikut lainnya.