Fixed Mindset vs Growth Mindset
Telah dituliskan: 21 Februari 2013 Filed under: as a college student, as a learner, as a reader, as an observer, as myself, as [undefined] | Tags: carol dweck, psikologi Leave a comment »Pikiran kita bisa dimodelkan. Mungkin kita tidak bisa sepenuhnya memahami bagaimana pikiran kita sendiri bekerja, namun kita bisa berusaha mengamati bagaimana perilaku pikiran kita. Toh pikiran itu adalah proses yang terjadi dalam otak kita sendiri.
Salah satu model yang mungkin bisa menjelaskan perilaku pikiran kita adalah mindset. Mindset adalah kumpulan keyakinan, sebuah kebiasaan atau karakteristik sikap mental yang menentukan bagaimana kita menafsirkan dan merespon berbagai situasi.
Manfaat memahami mindset adalah agar kita benar-benar yakin pada sebuah hipotesis: Apa yang terjadi pada kita tidak lebih penting daripada bagaimana kita melihat dan merespon kejadian tersebut.
Pikirkan sebuah kejadian yang baru saja kita alami. Mungkin sesaat yang lalu saat kita sedang shalat, saat ujian, atau saat bekerja. Mungkin tahun-tahun silam yang masih terkenang sebagai kegagalan luar biasa, atau sebuah keberhasilan menapaki tangga kesuksesan. Bisa kejadian besar atau kejadian kecil yang mungkin tidak begitu penting namun bisa menimbulkan butterfly effect yang cukup signifikan. Dari setiap kejadian tersebut, kita bisa menginterpretasikannya dengan berbagai cara, namun kita bisa mengelompokkannya menjadi dua. Yaitu dengan menggunakan fixed mindset atau growth mindset.
Penelitian tentang dua mindset ini dilakukan oleh Carol Dweck selama kurang lebih 30 tahun. Dia mencoba menjelaskan salah satu akar masalah manusia : perubahan. Yaitu mengapa beberapa orang lebih dinamik mengikuti perubahan atau bergerak melakukan perubahan, sedangkan orang lain sangat sulit berubah.
Orang yang memiliki fixed mindset memiliki kecenderungan untuk mempertahankan kondisi stabil. Kondisi stabil adalah kondisi nyaman, kondisi masa lalu kita yang kita anggap sebagai kesuksesan, kemudian kita mempertahankan barbagai hal yang kita anggap sebagai sebab-sebab kesuksesan tersebut.
Di lain sisi, orang yang memiliki growth mindset memiliki kecenderungan untuk berubah. Perubahan itu tidak selalu baik, namun dia menganggap perubahan adalah jalan yang harus ditempuh untuk menapaki masa depan. Dia lebih berorientasi pada masa depan. Masa lalu mengenai kegagalan tidak banyak dia tanyakan “mengapa hal itu terjadi?” untuk menemukan sebab-sebabnya. Pun kesuksesan yang dulu, hanya dia anggap sebuah batu loncatan untuk hal yang jauh lebih besar di depan.
Sampai di sini mungkin kita melihatnya sebagai dikotomi. Oh iya, orang-orang yang saya kenal itu punya fixed mindset dan orang-orang yang sukses di sana memiliki growth mindset. Selamat, kita mungkin terjebak dalam judgement. Itu adalah salah satu kecenderungan pemilik fixed mindset.
Justru orang yang memiliki growth mindset akan lebih bijak melihat dirinya dan orang lain. Yaitu bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Beberapa orang mungkin bisa berubah dengan cepat, beberapa yang lain berubah lambat laun sedikit demi sedikit. Perubahan di sini tentunya dalam koridor nilai yang positif. Karena jika melihat kondisi kita sendiri, manusia memang cenderung lebih cepat jika menuju perubahan nilai negatif.
Model ini bukanlah klasifikasi tetap, namun merupakan nilai gradual yang merentang mulai dari titik total fixed hingga total growth. Setiap manusia memiliki mindset unik yang berbeda untuk setiap kejadian yang dia alami, kita hanya bisa memprediksi pola signifikan yang kita alami sendiri dan amati dari orang lain.
Gambar dari http://alexvermeer.com/why-your-mindset-important/
1 ONS BUKAN 100 GRAM tetapi 28,35 gram
Telah dituliskan: 20 Desember 2012 Filed under: as a reader, as an observer Leave a comment »
Reblogged from Sampaikan Walau Satu Ayat:
PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce.
Soft Skills for SAP Consultant
Telah dituliskan: 17 Oktober 2012 Filed under: as a collector, as an observer, as [undefined] Leave a comment »Melanjutkan tulisan tentang lesson learned dari proyek implementasi SAP, di tulisan ini saya akan bahas lebih detail tentang salah satu poin: soft skills. Selain karena masih jarang yang menulis tentang ini, soft skill juga berkontribusi cukup besar dalam keberhasilan seorang SAP consultant dalam menyelesaikan target atau memecahkan masalah.
Soft skills adalah istilah yang digunakan untuk menyebut satu set kemampuan seseorang yang umumnya berhubungan erat dengan
Egoisme vs Altruisme
Telah dituliskan: 31 Agustus 2012 Filed under: as a friend, as an observer | Tags: kebahagiaan, keseimbangan 3 Comments »Paham atau istilah-istilah berakhiran –isme dalam bahasa saya kira cukup menarik. Kalau di-inggris-kan, “is-me” menyenggol2 arti “adalah aku”, seperti Pandji yang memilih judul bukunya Nasional.is.me.
Seperti: Al.tru.is.me. Mungkin aku seorang altruis. Seorang yang mendahulukan kepentingan umum sebelum kepentingan pribadi. Seringkali dalam konteks kebangsaan (dulu ujian PPKn-ku pernah dapat 100 lho :p)
Atau : Ego.is.me. Mungkin aku juga seorang egois. Kadang aku tidak terima jika pendapatku mengenai altruisme itu tidak diakui orang lain. Orang lain harus setuju dengan altruisme.
Dan ketika kedua paham itu berkonflik, menyisakan pertanyaan di titik awal. Mengapa altruisme? Apa itu egoisme?
TEDxITS Speakers
Telah dituliskan: 11 Juni 2012 Filed under: as a dreamer, as an observer 2 Comments »TEDxITS
Thusday, June 21th, 2012
9.00 sd. 13.00
@Gedung Pascasarjana ITS Surabaya
Theme : a PassionaTED Way
by :
- Fadjar Hutomo “Engineering and Finance : A Spiritual Journey”
- M. Arief Budiman, “Sharing is the Power of Being Creative”
- Gamantyo Hendrantoro ”Progressive Research and Progressive Rock : A Synchronicity”
- Trinity “Open the Mind through Budget Traveling”
- Muhammad Nur Yuniarto “A Street Drifter’s Dream”
- Lisana Icha Shidqina “Culture, Mangrove, and Campus Journalism”
- Trio Adiono “Not only Made in Indonesia, but Made by Indonesian”
Host : Akhmad Guntar
TEDxITS,a passionaTED way
Yep, I’m a TED Talks Translator
Telah dituliskan: 26 April 2012 Filed under: as a collector, as a reader, as a writer, as an observer | Tags: Ted 6 Comments »We believe passionately in the power of ideas to change attitudes, lives and ultimately, the world.
- TED Mission : Spreading Ideas
I believe it too. My heart resonates with the passion to spread ideas. Ideas that have intentions for better and greater good. And more specifically, ideas that resonates with mine.
That’s why I like TED Talks very much. TED Talks provides videos of people sharing their ideas, passionately. They talk about ingenious, fascinating, and inspiring ideas they have. Some of them are simple, less than six minutes sharing, some longer up to twenty minutes or more. Some of the ideas is based on practical examples in the fields, some just mind blowing theories. The scope of the talks is very broad, including socio-psychology, terrorism, creativity and education problems, particle physics, new technology inventions, economics and poverty solution, environmental issues, and all other.
After tens of video downloads, I stumbled into a thought. I become moved to contribute. How can I contribute something to spread ideas.
Kuadran
Telah dituliskan: 14 Februari 2012 Filed under: as a collector, as a college student, as an observer | Tags: kuadran 5 Comments »Dari sistem koordinat kartesian, Cashflow Quadrant Robert Kiyosaki, hingga anatomi jantung menjadi dua atrium dan dua ventrikel. Dalam dunia pendidikan ada gaya belajar (learning styles) yang disematkan pada nama penemunya: Kolb’s learning styles.
Ada juga Gartner’s Magic Quadrant, Boston Consulting Groups’ Growth Share Matrix Quadrant, siklus empat proses penciptaan pengetahuan dalam Spiral Pengetahuan Nonaka, dan yang mengarah ke metafisika kuno: pembagian elemen dasar menjadi air, tanah, udara, dan api (Classical Element); juga pembagian tipe kepribadian klasik yang dipopulerkan Florence Littauer dalam Personality Plus, yaitu sanguinis, melankolis, koleris, phlegmatis. Semuanya mengambil bentuk dasar yang sama: kuadran.
Kuadran ada di mana-mana . Tapi Apa yang istimewa dari bentuk kuadran? Segera pemikiran abstrakku bertanya secara kritis. Mengapa harus kuadran?
Menurutku, kuadran adalah simbol keseimbangan. Sebuah pengembangan dasar dari hukum keberlawanan: bahwa sesuatu dengan segala atribut dan sifatnya mempunyai lawan atau pasangan yang saling mengimbangi, dan terkadang, saling meniadakan. Mirip Yin dan Yang.






13 Komentar Terakhir