Aku dan Keberanian
Telah dituliskan: 21 Maret 2011 Filed under: as a man | Tags: afirmasi, emosi, keseimbangan, ngaji, psikologi 2 Comments »Bagiku, keberanian adalah sebuah kemewahan yang jarang kunikmati. Sepanjang dua puluh tahun hidup di dunia, yang terekam dalam amygdala-ku lebih banyak mengenai rasa takut. Meskipun ada cahaya terang di depanku, aku memilih untuk membelakanginya. Bersembunyi dalam kegelapan.
Bagiku, belenggu masa lalu terlalu erat mengikat. Memberatiku dengan beban-beban kenangan kelam dan menyedihkan. Aku menghabiskan banyak energi mentalku untuk menyeret-nyeret bayanganku sendiri. Meskipun ada beberapa hal indah di sana, aku sudah terlalu capek untuk menikmatinya. Mulutku terlalu kaku untuk tersenyum.
Ada kekecewaan di sana. Ada masalah-masalah yang tidak terselesaikan. Ada pertanyaan terbuka yang masih menunggu jawaban. Ada kesempatan-kesempatan yang terlewatkan. Ada penyesalan mendalam. Ada dosa yang bertumpuk. Aku takut.
Namun terkadang ketakutanku tak beralasan. Ketika kutanya mengapa? Berbagai jawaban dan alasan segera mengabur. Tidak jelas. Sepertinya itu hanya kecemasan, bukan ketakutan. Bukan kenyataan yang harus ditakuti.
***
Aku, 71, 61
Telah dituliskan: 6 Maret 2011 Filed under: as a writer | Tags: emosi, pengalaman, psikologi 12 Comments »Aku merasa harus menuliskannya. Daripada aku menulis setatus-setatus di layanan microblogging, mendingan aku blogging beneran. Daripada aku larut dalam kegalauan, akan kutumpahkan curhat-an di sebuah tulisan. Semoga dengan begitu tidak sampai meracuni diri.
Langkah-Langkah Syaithan
Telah dituliskan: 5 Maret 2011 Filed under: as a moslem | Tags: emosi, ngaji Leave a comment »Beberapa kali terlambat datang ke majelis ilmu syar’i
Kemudian mencari-cari alasan untuk tidak mendatangi
Semakin sungkan untuk menyambung lagi
Hingga jauh dari majelis ilmu syar’i
Beberapa kali berkonflik dengan teman ngaji
Kemudian konflik berlarut-larut tidak bersolusi
Semakin menjadi jauh dan saling menjauhi
Hingga tidak saling bertegur sapa lagi
13 Desember
Telah dituliskan: 13 Desember 2010 Filed under: as myself | Tags: emosi, psikologi 4 Comments »Pagi hari kumulai dari bangunan mimpi hujan di sore hari. Ada ibu di sana. Beliau berteriak kepadaku entah apa. Aku berteduh di bawah pintu belakang mobil Kijang silver yang terbuka.
Kemudian kuliahku pagi adalah bioskop serial TV The Apprentice episode kompetisi pertama menjual ikan di Inggris (Season 4 Episode 1). Ketika ditanya Bu Renny, aku membela Nicholas. Mungkin karena aku memiliki persepsi yang sama. Dan kesombongan yang sama. Nicholas dipecat dan aku diangkat menjadi PM untuk tugas pertama fase eksekusi subproyek: membuat dokumen SKPL. Sementara aku setengah hati, julukan “sistem analis” di Rencana Manajemen Proyek kemarin memperdayaku.
Sekarang aku menjadi ujung tumbal. Mengerjakan berbagai hal kecil yang semua orang mampu, namun jarang sekali orang yang mau melakukannya. Diam-diam aku mengumpati mereka yang bicara besar, namun tak mau menangani hal-hal remeh. Aku membersihkan Rumah Allah “Amanah” dan merapikan dokumen-dokumen “kuliah.” Baca entri selengkapnya »



13 Komentar Terakhir