Egoisme vs Altruisme
Telah dituliskan: 31 Agustus 2012 Filed under: as a friend, as an observer | Tags: kebahagiaan, keseimbangan 3 Comments »Paham atau istilah-istilah berakhiran –isme dalam bahasa saya kira cukup menarik. Kalau di-inggris-kan, “is-me” menyenggol2 arti “adalah aku”, seperti Pandji yang memilih judul bukunya Nasional.is.me.
Seperti: Al.tru.is.me. Mungkin aku seorang altruis. Seorang yang mendahulukan kepentingan umum sebelum kepentingan pribadi. Seringkali dalam konteks kebangsaan (dulu ujian PPKn-ku pernah dapat 100 lho :p)
Atau : Ego.is.me. Mungkin aku juga seorang egois. Kadang aku tidak terima jika pendapatku mengenai altruisme itu tidak diakui orang lain. Orang lain harus setuju dengan altruisme.
Dan ketika kedua paham itu berkonflik, menyisakan pertanyaan di titik awal. Mengapa altruisme? Apa itu egoisme?
Tentang Lingkungan
Telah dituliskan: 6 Juni 2011 Filed under: as a moslem, as a writer, as an observer | Tags: dakwah, jalan-jalan, keseimbangan, perjalanan 3 Comments »Aku belum selesai dengan diriku sendiri, untuk apa aku memperhatikan orang lain?
Aku sempat berpikir demikian. Aku benci mengakuinya. Itu menjadikanku tampak seperti orang egois. Seorang yang tidak peduli terhadap sesuatu di luar dirinya.
Tapi, kapan aku bisa selesai dengan diriku sendiri? Apa sebagai mahasiswa, aku harus mendapatkan IP lebih dari tiga koma sebelum berbuat baik di dunia? Apa sebagai seorang anak manusia, aku harus berumur sekian untuk bertindak lebih dewasa? Apa sebagai seorang Muslim, aku harus hapal Al-Quran untuk menyampaikan satu ayat?
Apa sebagai seorang blogger, harus mendapatkan sekian pengunjung untuk menulis sebuah tulisan yang menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan?
Terkadang syarat itu sedemikian berat sehingga kita mengemukakan alasan-alasan untuk tidak berbuat baik sekarang, menganggap belum saatnya untuk berpikir lebih dewasa, atau menunda untuk segera menyampaikan apa yang kita tahu dari firman-firman Tuhan.
Atau syarat-syarat tersebut masih memberati keyakinan hingga masih dipenuhi keraguan untuk membuat tulisan sederhana mengenai peduli terhadap lingkungan.
Faktanya adalah tidak ada syarat minimal untuk berbuat kebaikan. Bahkan menurut Nabi, kita tidak boleh meremehkan sebuah kebaikan walaupun itu hanya berupa senyuman dan wajah riang kepada saudara kita [link].
Dan sebagai seorang blogger *atau wordpress-er
*, ada sebuah kesempatan untuk berpartisipasi terhadap lingkungan. Aku terima tantangan Mas Endah dengan tulisan sederhanaku kali ini.
Baca entri selengkapnya »
Aku dan Keberanian
Telah dituliskan: 21 Maret 2011 Filed under: as a man | Tags: afirmasi, emosi, keseimbangan, ngaji, psikologi 2 Comments »Bagiku, keberanian adalah sebuah kemewahan yang jarang kunikmati. Sepanjang dua puluh tahun hidup di dunia, yang terekam dalam amygdala-ku lebih banyak mengenai rasa takut. Meskipun ada cahaya terang di depanku, aku memilih untuk membelakanginya. Bersembunyi dalam kegelapan.
Bagiku, belenggu masa lalu terlalu erat mengikat. Memberatiku dengan beban-beban kenangan kelam dan menyedihkan. Aku menghabiskan banyak energi mentalku untuk menyeret-nyeret bayanganku sendiri. Meskipun ada beberapa hal indah di sana, aku sudah terlalu capek untuk menikmatinya. Mulutku terlalu kaku untuk tersenyum.
Ada kekecewaan di sana. Ada masalah-masalah yang tidak terselesaikan. Ada pertanyaan terbuka yang masih menunggu jawaban. Ada kesempatan-kesempatan yang terlewatkan. Ada penyesalan mendalam. Ada dosa yang bertumpuk. Aku takut.
Namun terkadang ketakutanku tak beralasan. Ketika kutanya mengapa? Berbagai jawaban dan alasan segera mengabur. Tidak jelas. Sepertinya itu hanya kecemasan, bukan ketakutan. Bukan kenyataan yang harus ditakuti.
***
Kualitas dan Kuantitas
Telah dituliskan: 19 November 2010 Filed under: as a learner, as a reader | Tags: keseimbangan Leave a comment »Keduanya harus berjalan, berlari, atau berhenti beriringan. Jika kuantitas sama dengan nol, maka tidak ada gunanya berharap kualitas. Jika kualitas rendah, maka tidak ada gunanya melakukan sesuatu sebanyak apa pun. Kuncinya adalah
striking balance between quantity and quality
Contohnya seperti nge-blog. Saya menolak untuk melazimkan posting postingan setiap hari dengan dalih untuk menulis posting yang berkualitas. Namun jika saya hanya memikirkan kualitas, maka blog saya akan jablai, bahkan tak ada postingan.
Contoh lainnya seperti shalat. Yang diwajibkan bukan hanya kuantitas ritual tanpa pemaknaan lima kali sehari, namun juga kualitas pengerjaannya. Allah memilih kata ‘menegakkan’ daripada ‘mengerjakan’ dalam perintah-Nya terkait dengan shalat. Ada penekanan yang berbeda di situ. ‘Menegakkan’ berarti mengerjakan dengan sepenuh hati, niat lurus, bersungguh-sungguh (jihad) dan tata cara yang sesuai dengan Sunnah.
Jadi, kualitas bukanlah lawan dari kualitas. Keduanya adalah ukuran yang saling melengkapi.




13 Komentar Terakhir