Seminar Media, Cyberspace and Society (1)

Kontroversi adalah bumbu yang lezat bagi penikmat informasi. Seperti pertandingan yang mengkompetisikan dua tim olahraga atau persinetronan yang mengkonflikkan peran antagonis dan protagonis. Hasilnya laris manis! Saya tidak perlu menyajikan statistik. Lihat saja pertandingan antarklub sepakbola setiap weekend. Lihat juga sinetron yang tidak pernah sepi di televisi (setidaknya di Indonesia). Prime time!

Begitu pula yang disuguhkan para mahasiswa komunikasi FISIP Unair di seminar ini. Empat sesi, empat pembicara, dua kontroversi.

Pembicara pertama bukan seperti yang tertulis di spanduk. Ahli komunikasi itu tidak datang. Akhirnya Dr. Henry Subiakto yang mendapat kesempatan itu. Beliau berbicara dengan kapasitasnya sebagai staf ahli Menkominfo, sekaligus dosen Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga. Topiknya: UU ITE.


kontroversi praktek praktis praktisi versus teori regulatoris akademisi

Dr. Henry memulai dengan fenomena BB, Fb, dan Twitter.

Pada suatu pagi seorang ABG bangun tidur. Tidak berlaku lagi lanjutan lagu lama “…kuterus mandi…” Baginya itu harus diubah dengan mengecek BB atau mengupdate Fb. Kemudian karena haus, dia mengirim BBM kepada pembantunya di bawah “Bi, buatin sirup ya..” Di bawah, Bibi yang sedang menyiapkan sarapan di dapur pun menjawab “OK..” Dan sembari mengecek jadwal hari ini, dia teringat janji jalan-jalan ke Mall sama geng-nya, maka dia pun mengontak nyokap di kamar tidur utama, “Ma, pak sopir nganterin aku ke Mall ya nanti jam 10..” Setelah mengeklik tombol send, ibunya yang sedang bersiap ke kamar mandi melihat pesan masuk dan menyempatkan membalasnya “OK, mami ke dokter bawa mobil sendiri deh.” Kebetulan Bokap lagi ke luar kota, jadi pak sopir bisa disuruh. Si ABG pun tak lupa update Fb dan Twitter-nya, “Asek.. tar lagie jalandh2 ke Moll..” dan mengirim SMS ke empat anggota gengnya. “Gals, jangan lupa janji qta yach.. jam10 di tempat byasa.. ^^”

Itulah kegiatan pagi hari di sudut sebuah kota besar. Shalat, mandi, dan sarapan tidak lebih penting daripada BBM, Fb, dan Twitter. Ini adalah sebuah fenomena alat komunikasi menjadi bagian integral dalam kehidupan sosial. Apa akibatnya?

Sangat bagus! Orang-orang India sekarang bisa mengambil pekerjaan orang-orang Amerika melaui internet. Ada juga yang memanfaatkan tele-CT Scan untuk bersaing harga dengan alat-alat kedokteran Amerika yang selangit. Beberapa dari mereka yang kreatif memanfaatkan VoIP dan Skype untuk memberikan les privat $2 per sesi kepada murid-murid Amerika yang kesulitan dengan materi pelajarannya, itu jauh lebih murah daripada membayar bimbingan belajar.

Fenomena ini tidak menjadi masalah, selama di pagi itu si ABG  tidak meng-upload rekaman hubungan intim dengan pacar yang masih tidur di sebelahnya untuk menyaingi Luna Maya dan Ariel. Tidak masalah juga jika para dokter di rumah sakit tujuan ibunya tadi tidak mempersoalkan nama baik mereka dicemarkan.

Tapi tidak, latar belakang Ibu Prita yang bekerja, berjilbab dan memiliki seorang anak kecil tetap mendapat tuntutan dari Rumah sakit Omni Internasional tapi juga mendapat simpati ribuan blogger. Sedangkan Luna Maya dan Ariel yang kaya, terkenal dan menjadi idola anak muda mendapat cemoohan dan umpatan rasa kekecewaan dari para penggemarnya, tapi Dewa 19 juga sempat menggelar konser simpatik padamereka.

Ah, mengapa sulit sekali menemukan produktivitas positif yang bisa kita banggakan di dunia internasional. Tapi jangan menyerah Indonesia, harapan itu masih ada..

Berbagai fenomena ini melatarbelakangi perhatian dunia internasional terhadap perkembangan hukum cyberspace. Internet yang mendatarkan dunia menciptakan ranah garapan hukum baru. Tapi, apakah itu perlu?

Dr. Henry  menjelaskan bahwa hukum hanyalah sebuah instrumen pengawal etika. Namun etika tidak akan pernah selesai diajarkan. Di seluruh agama, akhlak diajarkan, di pendidikan kewarganegaraan, etika dijadikan materi pelajaran, namun di mana-mana tetap terjadi pelanggaran etika dan norma masyarakat. Maka tetap diperlukan hukum untuk berusaha menegakkan keadilan dan menciptakan keamanan. Ini tidak terkait langsung dengan isu politis bahwa sekarang Menkominfo-nya dari PKS atau lainnya. Internet adalah teknologi lintas batas negara. Masalah ini adalah masalah internasional.

Constantly Changing

Cyberspace dan real-space sedang berinteraksi. Hasilnya adalah transformasi berbagai hal, termasuk budaya, pengetahuan, teknologi, dan hukum. Jika kita mendaftar apa saja yang bisa dilakukan online sekarang, seperti tidak ada habisnya. Game, pacaran, jual beli dan komunikasi adalah beberapa yang sudah marak dengan embel-embel online atau berbubuh e-lectronic di depannya.


Lahir pula istilah: netizen, gen C atau semacamnya. Tak ada definisi pasti untuk istilah-istilah itu. Ada yang menyebutkan bahwa mereka adalah generasi yang lahir setelah 1990 (berarti aku gak termasuk dong, hehe..), atau mereka yang lahir di atas kotak CPU, atau mereka yang memilih untuk memegang mouse daripada memegang botol susu atau mobil-mobilan saat balita😀. Yang pasti adalah net = internet, mereka semua mengenal komputer dan internet sejak dini. C dalam gen C bisa berarti

Connected, Content-oriented, digital Creative, Cocreation, Costumize, Curiosity, Cyborg, bisa juga Cyber, Cracker, dan Chameleon.

Yang terakhir, Chameleon (bunglon) diberikan sebagai julukan pada mereka yang terus menerus berubah alias Constansly Changing. Sebuah dampak ekspos terus-menerus oleh jaringan informasi. (Cracking Zone, Rhenald Kasali, 2010)

Sifatnya yang chaotic, termasuk yang bernuansa pemberontakan ala Hacker Manifesto yang lahir sejak 1986 membuat internet dan penggunanya hampir tidak mungkin diatur.

Characteristic and Classification

Menilik karakteristik internet, ada beberapa bagian kecil hal negatif yang bisa kita ketahui. Selain dampak positifnya, internet bersifat :

Destructive, borderless, many to many, widely used, portability, lack of reliable geographic identities, reactive active, lack of central control (and/or framework), convergence, ubiquitous, anonimousity, …

Dan menilik kasus-kasus yang terjadi menggunakan internet, kita bisa menyebutkan beberapa bagian kecil yang terkenal dan berbahaya

Human traficking, jual beli obat terlarang, transfer ilmu pembuatan bom, aktifitas intelijen, pencurian uang rekening bank, pencurian otoritas kartu kredit, konten ilegal yang membuat rugi milyaran rupiah, pencucian otak melalui konten berbahaya ala Nazi, komunisme, dan terorisme, …

Klasifikasi kasarnya, kejahatan berkaitan dengan internet itu ada dua :

  • Kejahatan dengan ICT
  • Kejahatan pada ICT

Selain untuk kebaikan, ICT juga bisa digunakan untuk berbuat kejahatan. Bagai sebuah pedang, di tangan orang baik ia akan digunakan untuk kebaikan, di tangan orang jahat ia akan digunakan untuk kejahatan. ICT bisa digunakan untuk mencari atau mencuri uang, mengamankan atau menjebol informasi penting dan rahasia, mengharumkan atau menjatuhkan martabat personal atau bangsa, memuji atau mencaci.

Untuk yang terakhir, saya baru saja mengalaminya. Saya dicaci tanpa ampun di blog saya sendiri [link]. Dia hampir saja membunuh keinginan saya untuk menulis lebih baik. Tak ada pemikiran progresif yang konstruktif. Saya terluka dan kecewa. Saya melambat hingga hampir saja saya berhenti. Tapi tidak. Saya mesti punya idealisme yang saya pertahankan.

Ada juga cara mempertahankan ide a la saudara saya. Kritik terhadap OSPEK di jurusannya dia sampaikan di blog [link]. Begitu beraninya, dia sampai harus bertemu dengan alumni dan punggawa-punggawa OSPEK seorang diri. Tak peduli ancaman dan kecaman, dia punya idealisme yang dia pertahankan.

Ide yang kokoh akan mengalahkan ide yang lemah.

Saya tidak akan menambahi ‘ide’ menjadi ide-ologi atau ide-alisme. Ini bukan saatnya berdebat a la filsafat.

Selain itu, kejahatan juga bisa ditujukan pada ICT. Sementara ICT semakin menempati peran strategisnya dalam sebuah sistem, maka ia akan segera menggoda para kontra-sistem untuk menguji kehandalannya atau mencoba menghancurkannya tanpa ampun. Sebut saja cracker, virus, malware, phising, dan sebagainya. Mereka adalah lawan dari sistem ICT, jika mereka berhasil, maka sistem ICT akan hancur atau rusak bersama dengan sistem lain yang bergantung padanya.

(bersambung : Orang-orang di Kemenkominfo sana ngapain aja sih?)

About Arief Rakhman

Seorang Muslim, itulah identitasku, yang 12 lainnya hanya tambahan..

8 comments

  1. sepertinya seru jika debat seperti itu,
    Saya jg suka soalnya,hehe
    Nice posting sahabat..

    Salam.
    Budaya Ngeblog

  2. Panjaaaaaaaaaang banget!😀

  3. An

    saya takjub sampeyan bisa nulis sepanjang ini.
    Kalo saya mah paling panjang 750 karakter , mentok dah. (kecuali untuk nulis modul/laporan praktikum):mrgreen:

    by the way, sepintas sampeyan pantas jadi ahli hukum IT.
    Lagi-lagi saya salut ada orang yang tahan mendalami tata bahasa pasal yang ribet itu. . . .😀

    • haha, maap jika terlalu panjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang..😀
      sebenarnya mau lebih singkat.. tapi saya ndak tahan untuk melaporkan hampir semua yang bisa saya tangkap.. hehe..

      Klo jadi ahli hukum IT sepertinya ndak, mgkn cuma berusaha jadi pengamat aja, kebetulan sempat dapet mata kuliah Etika Profesi yang mbahas tentang UU ITE pas semester 7:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 183 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: